Hujan pun akan berhenti (Surrealife 9:1-7)

1 Kemarin Jakarta diguyur hujan. Lagi. Kali ini tidak tanggung-tanggung. Petir berkali-kali menyambar. Air bagaikan tumpah dari langit. Di manakah diriku berada pada saat itu?

2 Mungkin kemaren gue agak males yah tinggal di kantor sampai lama menunggu hujan selesai. Soalnya hujan tidak pernah selesai, jadi cabut pas hujan deras dengan rencana naik taksi. Eh, taksi yang dinanti penuh semua.

3 Ternyata ada ojek yang gigih menawarkan jasanya kepadaku yang teronggok di tengah jalan dipayungi hujan. Dia menyerahkan jas hujan kepada gue yang menerima dengan ragu-ragu.

4 Becanda yah? Masa ujan deres begini naik ojek? Tapi kalau gak sekarang kapan lagi? pasti jalanan macet. Lebih baik pulang, mandi, dan bisa langsung tidur.

5 Akhirnya menggunakan teori yang demikian, pulanglah gue menggunakan ojek. Ternyata benar jalanan macet. Saking macetnya sampai motor juga gak bisa lewat. Dongkol, iya mungkin. Tapi mau gimana lagi. Di Jakarta, kalau tingkat penerimaan elu tidak tinggi, elu bakalan meledak lebih cepat dan lebih sering.

6 Dengan doa kepada Tuhan dan santo-santa kesayangannya, akhirnya gue sampai ke rumah. Mandi, merebahkan diri di tempat tidur, dan memejamkan mata.

7 Hari ini, pasti juga kayak kemarin. Gak akan berbeda jauh. Tapi mungkin kali ini lebih baik menunggu di kantor, daripada kayak tikus got seperti kemarin.

Written by :akokow

0 Comments:

Post a Comment